Minggu, 18 November 2012

RINTIHAN AIR MATA*

Cerpen, 04-07-2011


“Tidak ......!!” Teriakku histeris usai terima telepon dari mama, seketika semangatku sirna, harapan keruh di ambang ombak , cita-citapun di hembus angin tanpa selayang bekas di benakku. Baru saja aku ingin beranjak menuju semangat belajar baru guna menyiapkan UAN tiga hari yang akan datang. Tiba-tiba terbakar air mata kesedihan yang menetes tanpa henti. Semuanya gelap karena derita ayah, salah seorang yang menghadirkanku di muka bumi, kini berbaring tak berdaya di rumah sakit atas kecelakaan tadi pagi. Aku tak sanggup membayangkan sakitnya saat terlepas dari leher pohon siwalan, aku tak bisa memutar kejadian itu dalam ingatan. Sungguh sejarah itu tidak bisa ku terima dengan lapang dada. “Apa...???!!!” Tanyaku terkejut setelah mendengar keterangan dokter bahwa ayah harus melakukan operasi perut. Seketika mulutku kaku, air mata berlinangan, hati sesak menahan dan seluruh tubuh lemas tidak berdaya.
***
 Malam ini, malam pertama dari sejarah pahit di rumah sakit. Suasananya sangat dingin, hujan menguyur sejak tadi sore , petir dan angin begitu setia mengiringi tiap tetes air hujan seraya berlomba-lomba, ketakutan mengerumuni tubuhku, ketenangan dalam batin musnah, degap degup jantung pun semakin kencang. Pikiranku terus merangkak pada dua jalan yang sulit di langkahi, yang pertama penderitaan ayah, yang ke dua keberbaringan kakek  yang sudah tua renta seperti tidak punya daya untuk bertahan hidup lama. Dua-duanya menjadi beban yang sangat dilematis dalam benakku.
Malam ini aku kehabisan nafsu tidur, gelisah semakin erat mengikat keberadaanku, berkali-kali telah ku coba menutup dua permata alat aku melihat melalui jendelanya masing-masing. Tapi usaha yang aku lakukan selalu nihil, aku tak mampu memaksanya. Sampai malam yang di warnai bintang hanya tinggal kabut terlentang tenang , bulan yang bercahaya sudah tidak lagi dinikmati sinarnya oleh dunia, kumandang adzan subuh sudah berlalu, matahari pun memancarkan lampu kemerahan yang di liputi oleh embun, ternyata pagi ini tak jua membawa kedamaian, tapi kegelisahan semakin bertambah. “Andaikan sebelumnya Tuhan mengirim sms ataupun secarik kertas yang bertuliskan (aku akan menurunkan kesedihan yang amat kepadamu), pasti ku tolak dan ku tunda sampai aku benar-benar siap”, terlintas dalam anganku.
Matahari semakin tinggi, sedangkan aku baru saja bisa beranjak menuju apotek yang letaknya di samping selatan jalan raya didepan rumah sakit untuk membeli obat yang sudah di resep oleh dokter, secara perlahan hujan jatuh satu persatu seperti mengiringi langkah demi langkah kakiku. Sesampainya di kamar ayah dirawat aku berikan obat yang ada dalam pegangan tanganku kepada ibu, kemudian aku duduk di sampingnya. Jam 08:30 aku memandang kalender yang terletak di samping pintu kamar ayah dirawat. Seketika air mata berjatuhan. Kesal, ingin rasanya merobek-robek tanggal kemarin di kalender itu. “ Sudahlah nak....!!! mungkin ini adalah takdir dan ujian untuk kita semua, kita harus bisa menerima cobaan ini, lagi pula kamu kan sudah tau kalau Tuhan itu melimpahkan ujian bagi hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya “. ibu menasehati ku tanpa basa-basi, kata-katanya benar-benar  menohokku, aku menatapnya seraya berdiam, tiba-tiba ke dua matanya meniteskan air bening. Segera aku menghapus air matanya. “ Ibu hanya tidak tega melihat keadaan ayahmu...” ucapnya tersendat-sendat. (Serentak kami berdiam, beberapa detik kemudian hp-ku berdering, aku beranjak keluar lalu mengangkat telepon dari kakak)
 “ Assalamu’alaikum...” sapaku
“ Wa’alaikum salam...” sahut kakak dari seberang sana. “ Dik, ! kamu bisa pulang kah sekarang?! Jemput kakak !?” (lanjutnya seperti orang menangis).  “ iya” jawabku singkat secara bersamaan saluran ponsel kita terputus. Segera ku pamit kepada ibu , kemudian bergegas pulang.
Kabut  yang gelap menemani kepulanganku, bunyi seperti suara bom meledak di langit, menyambar di atas kepala, sampai di pertengahan jalan air hujan akhirnya berjatuhan dengan deras, pakaian dan tubuh pun basah secara tiba-tiba karena aku tak sempat untuk berteduh di rumah warga. Petir menggelegar dahsyat dan kilatan merah seperti lampu yang di mainkan pada setiap helai tetes air hujan, semuanya datang bersamaan. Beberapa menit kemudian aku sampai di kampungku dan hujan reda seketika. Sesampainya di depan rumah aku melihat kakak berdiri sambil menangis, orang-orang berdatangan dan membuatku timbul sejuta pertanyaan. Segera ku dekati kakak yang sedang menangis pilu, saat di dekatnya tiba-tiba kakak menyeret tubuhku kedalam pelukannya, dia memelukku sangat kencang seraya berkata “ kakek, dik...!!”. mendengar ucapan kakak, aku segera melepas pelukan eratnya dan bergegas menuju kamar kakek. “kakek...!!! “ teriakku, melihat sekujur jasad kakek yang sudah berselimut kain sarung panjang, detak nadinya sudah tidak berdenyut lagi, nafasnya yang sudah tiada. Perlahan tubuhku lemas, mata penuh bayang-bayang , pusing dan...!?!. (Tiba-tiba ku melihat kakek sudah di sholati).
***
7 hari dari kembalinya kakek kerumah yang abadi tak seorangpun di rumah sakit membuka mulut atas kepergian kakek. Hari ini hari jumat, hari yang menjatuhkan air mata secara bertubi-tubi takkan pernah tertutup debu dalam memory perjalanan ku. Pagi ini ayah membuka matanya dengan ceria kemudian memandangku dari tempat berbaringnya, ku balas pandangannya dengan tatapan manis yang berbuah senyum. “ syukurlah ayah sudah bangun “ sapaku membuka tirai kesunyian. Tapi, tatapan ayah semakin tajam memandangku, sungguh aku tak bisa menerka pandangannya. Lalu dia mencoba untuk duduk dari baringnya, sayang dia tak mampu menggerakkan tubuhnya yang rapuh, aku melihat ada seribu kekecewaan mengerumuni dirinya. “ ya Allah... limpahkanlah kepulihan kepada salah se orang yang ikut berpartisipasi untuk mewujudkanku di muka bumi ini “ bisik hatiku yang paling dalam. Kemudian ayah tersenyum seraya bertanya “bagaimana ujian mu kemarin ???”, tanyanya, “alhamdulillah lancar”, jawabku singkat. Ayah mulai membelah bibirnya dengan bunga, senyumku  mengiringi senyumnya, heningpun menemani percakapan senyum kami.
Malam sudah tiba, aku duduk seperti orang termenung ba’da shalat isya’ di atas sajadah sambil memutar selingkar tasbih, entah mengapa tiba-tiba air mata berjatuhan , fikiran mengambang di tengah awan, ada rasa benci, kesel, kecewa, bahkan rasa marah terhadap Tuhan. Tapi, di balik semua itu aku menyadari bahwa tiada yang sempurna di dunia ini, tiada yang mampu di dunia ini  kecuali yang menciptakan dunia ini sendiri, bahkan aku merasa gila karena mengeluh terhadap apa yang menimpa keluargaku, padahal dengan mengeluh Tuhan tidak akn mengembalikan apa yang sudah di ambilnya, akhirnya aku ingat salah satu saran dari seorang guru,”tidak ada masalah yang tidak ada titik tupunya, hal yang paling mudah di lakukan seseorang ketika dalam kejenuhan, fikirannya sibuk, pusing karna memikirkan sesuatu adalah menghirup nafas degan pelan, kemudian di tahan dalam dada sejenak dan lepas melalui mulut, niscaya ketenangan akan datang dengan sendirinya”. Saran itu terlintas dalam angan, secara tidak sadar aku mengangguk berkali-kali, lalu mencoba yang telah terlintas di angan, sesudahnya, aku berdiri seraya menikmati kedamaian, ku ambil selembar kertas beserta pena, ku tulis sajak hatiku.
????
Dari mana sumber mata air, air mata???
Jika tidak Tuhan ciptakan...!
Dari mana akar sayang kasih, kasih sayang???
Jika tidak Tuhan ciptakan...!
Dari mana manusia lahir, lahir manusia???
Jika tidak Tuhan ciptakan kematian...!
Tuhan... ku titipkan pada-Mu.


* Moh. Horri “Sang Kejora Sukma” merupakan Kader Baru IMM KIP “Blue Savant” UMSurabaya, Smt. 1 Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

1 komentar:

  1. terlalu panjang kawan postingannya. ni klo bisa
    postingannya lewat WWW.Ziddu.com

    BalasHapus