“Bagi penduduk di sebuah tempat yang letaknya jauh, jauh dari sini. Seekor burung selalu menjadi simbol yang indah bagi mereka. Sama indahnya dengan helai bulunya...”
“Menurut kepercayaan penduduk di tempat itu, saat ada seseorang di antara mereka yang pergi, meninggalkan kota, meninggalkan kampung, maka mereka harus melepaskan seekor burung baginya. Lebih banyak burung yang dilepaskan, maka lebih banyak keberuntungan yang akan menyertai kepergiannya... Kau tahu, Melati, kenapa harus seekor burung? Kenapa bukan bebek? Sapi? Atau binatang ternak lainnya? .... Karena burung menjadi simbol yang amat indah ...”
“Lihatlah, seekor burung terbang bebas di angkasa. Tanpa beban. Berputar-putar menatap hamparan dunia luas... begitu indah, bukan? Begitu pula seharusnya saat seseorang akan pergi, entah itu untuk menimba ilmu, entah itu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, entah itu untuk janji sebuah perubahan, ia seharusnya sama bebasnya seperti seekor burung. Tanpa beban.. Berputar-putar begitu indah. Bahkan, kau tahu, Sayang, setiap manusia sudah seharusnya bagai seekor burung, hidup bebas tanpa beban perasaan, tanpa beban kepedihan. Selalu senang memandang luasnya hamparan kesempatan dan janji kebaikan di muka bumi.”
“Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan... Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kenalan-kenalan baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu...”
(Potongan novel Tere Liye “Moga Bunda Disayang Allah”,
Untuk kita agar lebih mudah dan berani meninggalkan kenyamanan, demi “kebahagiaan yang lebih besar”.)
(-gf)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar