Senin, 30 September 2013

Dahsyatnya Kebangkitan Islam Rusia

Peristiwa G30S/PKI memang menjadi catatan gelap sejarah bangsa ini. Tapi sungguh tak pernah ada peristiwa yang datang tanpa hikmah, walau sebuah tragedi sekalipun. Ini karena Allah adalah Maha Pengasih yang Maha Adil. Bahkan tahukah kalian sahabat Blue Savant, jika negara yang katanya ibu dari paham komunis yang menjadi dasar gerakan dan dijadikan nama dengan bangganya oleh partai ini, kini tengah memanen anugerah Allah yang tak diduga siapapun sebelumnya. Anugerah itu ialah dahsyatnya Geliat Islam di Rusia...
Let’s check this out ! 
(gita)


Dahsyatnya Kebangkitan Islam Rusia
http://suar.okezone.com/read/2013/06/03/285/816494/redirect
Judul : Geliat Islam Di Rusia: Catatan Diplomat Indonesia
Penulis : M. Aji Surya dan Frassminggi Kamasa
Penerbit : Kompas
Tanggal : I, Juli 2012
Tebal : xvi+288 halaman


Islam di Rusia? Sebuah pertanyaan yang aneh, sekaligus menyentak batin kita. Bagaimana tidak, tanah Rusia seolah sudah terkontaminasi secara akut dengan ajaran komunis dan solialis. Sulit dimurnikan kembali.

Memang selama 74 tahun di bawah Uni soviet kegiatan keagamaan di Rusia sulit begerak. Hampir semua masjid dihancurkan, karya sastra dibakar, imam dan ulama’ dibunuh. Sejak saat itu, dakwah nyaris tidak bisa dilakukan kecuali di bawah tanah dan dilakukan dari rumah ke rumah.

Namun, perlu diingat, komunisme hanya merajai Rusia sejak Revolusi Bolshevik tahun 1917 hingga bergulirnya Perestroikadan Glasnost tahun 1991. Setelah itu gairah keislaman mulai menyala. Hal itu mendorong umat Islam untuk merekonstruksi masjid, melakukan pencerahan Islam serta melebarkan sayap ke panggung pemerintahan.

Normalisasi Islam di Rusia dimulai dengan terbentuknya pelbagai organisasi Islam dan berdirinya masjid sebagai tempat berkumpul kaum muslimin untuk menyambut sekaligus mempersiapkan kebangkitan umat Islam. Mereka juga sadar bahwa bangkitnya Islam berarti bangkitnya pendidikan Islam itu sendiri. Karenanya, sampai tahun 2009 tercatat 18 sekolah tinggi Islam di sana (hal 149).

Potensi kebangkitan lain adalah tingkat fertilitas muslim Rusia yang telah melampaui etnis Rusia. Ini terjadi tatkala terdapat perbedaan 15,12 poin yang pada tahun 2007 tingkat kelahiran di Chechnya 26,4 per 1.000 orang, sementara di Rusia hanya 11,28 per 1.000 orang. Dengan begitu, generasi tua di etnik Rusia menjadi jauh lebih banyak. Dan sebaliknya, banyak generasi muda di etnik non-Rusia.

Sayang, akibat dari sistem totalitarian Soviet, pekembangan ini tidak disertai dengan pemahaman keislaman yang memadai. Lemahnya organisasi pendidikan ini otomatis mengendorkan semangat kader Islam untuk melanjutkan estafet dakwah Islam di negara Beruang Putih ini (hal 236).

Hingga kini, gairah Islam di Rusia terus mengalami peningkatan. Semua masjid hampir dipastikan tidak mampu memuat jemaah untuk shalat jumat, tarawih hingga Idul Fitri. Ini terbukti ketika dalam suatu pelaksanaan hari raya Idul Fitri di sebuah Masjid Agung Moskwa, jemaahnya meluber sampai dekat stasiun metro yang jika ditempuh dengan berjalan membutuhkan waktu 10 menit. Ini hampir mirip dengan padatnya jemaah di Masjidil Haram ketika musim haji (hal 135).

Namun, umat Islam tidak kehilangan akal. Ketika masjid-masjid sudah sesak, mereka bisa melakukannya di mana saja, termasuk di jalan-jalan, trotoar, dan lainnya. Mereka bahkan bisa mengular sampai 2 kilometer dari masjid. Tidak peduli apakah mendengar khatib atau imam, apakah arah kiblatnya tepat, maupun dengan dinginnya udara hingga minus 10 derajat Celsius. Mereka hanya menghadap Tuhan dengan hati dan iman (hal 154).

Hadirnya buku perdana tentang wacana keislaman di Rusia ini berangkat dari catatan harian penulis yang sebagian besar telah diterbitkan di pelbagai media massa dan buku. Terdapat pula kajian riset dari seorang Fransminggi Kamasa yang cukup deskriptif dan mendalam. Di beberapa halaman, tak lupa penulis mencantumkan beberapa foto menarik.
Buku tentang dinamika Islam di Rusia dari waktu ke waktu ini diracik dengan bahasa yang sederhana dan ringan sehingga pembaca tidak perlu mengernyitkan dahi. Hal ini lantaran buku ini disusun oleh penulis yang sudah bermukim lebih dari empat tahun di Rusia. Buku ini laik dijadikan koleksi bacaan bagi sejarawan, ilmuan, serta siapa saja yang hendak mengetahui geliat Islam di Rusia tempo dulu, saat ini dan esok.

Peresensi: Khotibul Umam
Pengelola Rumah Aksara Kalijaga Demak


G30S/PKI

September. Ada apa di bulan September? Bagi orang yang cinta sejarah, September sudah barang tentu seketika membawa ingatan menembus dimensi waktu, kembali ke Indonesia 47 silam saat hari terakhir di bulan itu mengukir memori kelam sepanjang masa, peristiwa G30S/PKI. Masih ingatkah teman sekalian akan peristiwa ini? Yuk, segarkan ingatan sejenak dengan membaca artikel yang dikutip dari http://diaryvazha.blogspot.com/2011/08/sejarah-singkat-g-30-s-pki.html di bawah ini. JASMERAH guys ! 
-(gf)


Gerakan 30 September atau yang sering disingkat G 30 S PKI, G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September 1965 sampai di awal 1 Oktober 1965 di mana enam pejabat tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.
Peristiwa
Isu Dewan Jendral
Pada saat-saat yang genting sekitar bulan September 1965 muncul isu adanya Dewan Jenderal yang mengungkapkan adanya beberapa petinggi Angkatan Darat yang tidak puas terhadap Soekarno dan berniat untuk menggulingkannya. Menanggapi isu ini, Soekarno disebut-sebut memerintahkan pasukan Cakrabirawa untuk menangkap dan membawa mereka untuk diadili oleh Soekarno. Namun yang tidak diduga-duga, dalam operasi penangkapan jenderal-jenderal tersebut, terjadi tindakan beberapa oknum yang termakan emosi dan membunuh Letjen Ahmad Yani, Panjaitan, dan Harjono.
Isi Dokumen Gilchrist
Dokumen Gilchrist yang diambil dari nama duta besar Inggris untuk Indonesia Andrew Gilchristberedar hampir bersamaan waktunya dengan isu Dewan Jenderal. Dokumen ini, yang oleh beberapa pihak disebut sebagai pemalsuan oleh intelejen Ceko di bawah pengawasan Jenderal Agayant dari KGB Rusia, menyebutkan adanya "Teman Tentara Lokal Kita" yang mengesankan bahwa perwira-perwira Angkatan Darat telah dibeli oleh pihak Barat[4]. Kedutaan Amerika Serikat juga dituduh memberikan daftar nama-nama anggota PKI kepada tentara untuk "ditindaklanjuti".
Isu Keterlibatan Suharto
Namun, hingga saat ini tidak ada bukti keterlibatan/peran aktif Soeharto dalam aksi penculikan tersebut. Satu-satunya bukti yang bisa dielaborasi adalah pertemuan Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Pangkostrad (pada zaman itu jabatan Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat tidak membawahi pasukan, berbeda dengan sekarang) dengan KolonelAbdul Latief di Rumah Sakit Angkatan Darat.
Korban
- Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
- Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
- Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
- Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
- Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
- Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
- Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
- Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau, Lettu CZIPierre Andreas Tendean tewas dalam usaha pembunuhan tersebut. Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Mayat mereka ditemukan pada 3 Oktober.
Lubang Buaya
Letnan Kolonel Untung, komandan Cakrabirawa, pasukan pengawal kepresidenan, memerintahkan Letnan Satu Dul Arief untuk menjemput dan membawa jenderal-jenderal yang telah didata. Pasukan Pasopati yang dipimpinnya segera bergerak dari Lubang Buaya sekitar pukul 03.00 WIB. Mereka menyebar ke sasaran masing-masing secara serentak.
Brigadir Jenderal Soetodjo Siswomihardjo, Brigadir Jenderal Donald Izaac Pandjaitan, Mayor Jenderal S. Parman, Mayor Jenderal MT Hardjono, Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto dan Letnan Satu Piere Andries Tendean, mereka bawa ke Lubang Buaya untuk diinterogasi. Massa yang sedang kalap menganiaya mereka hingga tewas. Jenazah para korban lantas dibenamkan ke dalam sumur itu.
Kisah-kisah menyeramkan pun segera mengalir. Soeharto, salah seorang jenderal yang selamat, mengkampanyekan kekejian massa PKI lewat dua koran milik militer: Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Disebutkan, sebelum dibunuh, para perwira itu disiksa dan dijadikan bagian pesta mesum Gerwani. Sejumlah perwira disayat-sayat kemaluannya dan matanya dicungkil.
Pasca Kejadian
Pada tanggal 1 Oktober 1965 Sukarno dan sekretaris jendral PKI Aidit menanggapi pembentukan Dewan Revolusioneroleh para "pemberontak" dengan berpindah ke Pangkalan Angkatan Udara Halim di Jakarta untuk mencari perlindungan.
Pada tanggal 6 Oktober Sukarno mengimbau rakyat untuk menciptakan "persatuan nasional", yaitu persatuan antara angkatan bersenjata dan para korbannya, dan penghentian kekerasan.
Pada tanggal 12 Oktober 1965, pemimpin-pemimpin Uni-Sovyet Brezhnev, Mikoyan dan Kosygin mengirim pesan khusus untuk Sukarno: "Kita dan rekan-rekan kita bergembira untuk mendengar bahwa kesehatan anda telah membaik...Kita mendengar dengan penuh minat tentang pidato anda di radio kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap tenang dan menghindari kekacauan...Imbauan ini akan dimengerti secara mendalam."
Pada tanggal 16 Oktober 1965, Sukarno melantik Mayjen Suharto menjadi Menteri/Panglima Angkatan Darat di Istana Negara. Berikut kutipan amanat presiden Sukarno kepada Suharto pada saat Suharto disumpah
Penangkapan dan pembantaian
Pada akhir 1965, antara 500.000 dan satu juta anggota-anggota dan pendukung-pendukung PKI telah menjadi korban pembunuhan dan ratusan ribu lainnya dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa adanya perlawanan sama sekali. Paling sedikit 250,000 orang pekerja dan petani dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi. Diperkirakan sekitar 110,000 orang masih dipenjarakan sebagai tahanan politik pada akhir 1969. Eksekusi-eksekusi masih dilakukan sampai sekarang, termasuk belasan orang sejak tahun 1980-an. Empat tapol, Johannes Surono Hadiwiyino, Safar Suryanto, Simon Petrus Sulaeman dan Nobertus Rohayan, dihukum mati hampir 25 tahun sejak kudeta itu.
Supersemar
Lima bulan setelah itu, pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno memberi Suharto kekuasaan tak terbatas melaluiSurat Perintah Sebelas Maret. Ia memerintah Suharto untuk mengambil "langkah-langkah yang sesuai" untuk mengembalikan ketenangan dan untuk melindungi keamanan pribadi dan wibawanya. Kekuatan tak terbatas ini pertama kali digunakan oleh Suharto untuk melarang PKI. Sebagai penghargaan atas jasa-jasanya, Sukarno dipertahankan sebagai presiden tituler diktatur militer itu sampai Maret 1967.
Kepemimpinan PKI terus mengimbau massa agar menuruti kewenangan rejim Sukarno-Suharto. Aidit, yang telah melarikan diri, ditangkap dan dibunuh oleh TNI pada tanggal 24 November, tetapi pekerjaannya diteruskan oleh Sekretaris Kedua PKI Nyoto.
Peringatan
Sesudah kejadian tersebut, 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September. Hari berikutnya, 1 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Pada masa pemerintahan Soeharto, biasanya sebuah film mengenai kejadian tersebut juga ditayangkan di seluruh stasiun televisi di Indonesia setiap tahun pada tanggal 30 September. Selain itu pada masa Soeharto biasanya dilakukan upacara bendera di Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dan dilanjutkan dengan tabur bunga di makam para pahlawan revolusi di TMP Kalibata. Namun sejak era Reformasi bergulir, film itu sudah tidak ditayangkan lagi dan hanya tradisi tabur bunga yang dilanjutkan.

Kamis, 19 September 2013

“Bagi penduduk di sebuah tempat yang letaknya jauh, jauh dari sini. Seekor burung selalu menjadi simbol yang indah bagi mereka. Sama indahnya dengan helai bulunya...”

“Menurut kepercayaan penduduk di tempat itu, saat ada seseorang di antara mereka yang pergi, meninggalkan kota, meninggalkan kampung, maka mereka harus melepaskan seekor burung baginya. Lebih banyak burung yang dilepaskan, maka lebih banyak keberuntungan yang akan menyertai kepergiannya... Kau tahu, Melati, kenapa harus seekor burung? Kenapa bukan bebek? Sapi? Atau binatang ternak lainnya? .... Karena burung menjadi simbol yang amat indah ...”

“Lihatlah, seekor burung terbang bebas di angkasa. Tanpa beban. Berputar-putar menatap hamparan dunia luas... begitu indah, bukan? Begitu pula seharusnya saat seseorang akan pergi, entah itu untuk menimba ilmu, entah itu untuk mencari kehidupan yang lebih baik, entah itu untuk janji sebuah perubahan, ia seharusnya sama bebasnya seperti seekor burung. Tanpa beban.. Berputar-putar begitu indah. Bahkan, kau tahu, Sayang, setiap manusia sudah seharusnya bagai seekor burung, hidup bebas tanpa beban perasaan, tanpa beban kepedihan. Selalu senang memandang luasnya hamparan kesempatan dan janji kebaikan di muka bumi.”

“Dalam proses kepergian, lazimnya yang pergi selalu lebih ringan dibandingkan yang ditinggalkan. Lebih ringan untuk melupakan... Yang pergi akan menemui tempat-tempat baru, kenalan-kenalan baru, kehidupan-kehidupan baru, yang pelan tapi pasti semua itu akan mengisi dan menggantikan kenangan lama. Sementara yang ditinggalkan lazimnya tetap berkutat dengan segala kenangan itu...”

(Potongan novel Tere Liye “Moga Bunda Disayang Allah”,
Untuk kita agar lebih mudah dan berani meninggalkan kenyamanan, demi “kebahagiaan yang lebih besar”.)

(-gf)

Kotak, kotak, kotak dalam “KOTAK”

By: Alfianur Rizal R.R.A (SEKBID. ORSEBUD IMM KOM. KIP)

Kotak
Inilah wadah
Kotak
Wadah kita
Kotak
Bercampur dengan aku, kau, dia, dan mereka
Kotak yang panas
Kotak yang keras
Kotak yang bebas
Kotak yang ringkas
Kotak, kotak, kotak,
kotak, kotak, kotak,
kotak, kotak, kotak
Ada berapa kotak?
Semua menjadi kotak
Aku dalam kotak
Kau dalam kotak
Dia dalam kotak
dan,
Mereka juga dalam kotak
Panas
Membuatku bermain petak umpet

Surabaya, 29 Agustus 2013

Selasa, 16 Juli 2013

SUSUNAN PENGURUS IMM. KOM KIP (BLUE SAVANT)
periode 2013 - 2014 (Generasi Ke - 7)

Ketua Umum : Maftuchatus Saidah
Sekretaris Umum : Purwanto
Bendahara Umum : Rizka

Bidang Kader
Kabid : Hesty Nur Aini
Sekbid : Anjar Ayu Utami Ningsih
Anggota : Adam

Bidang Keilmuan dan Riset
Kabid : Holy Icha Wahyuni
Sekbid : Hamzah
Anggota : Nuzulul Hidayah

Bidang Hikmah
Kabid : Moh. Horri
Sekbid : Amar
Anggota : Desi Eka Rahmawati

Bidang Dakwah
Kabid : Zuhrotul Firdaus
Sekbid : Nikmah

Bidang IMMawati
Kabid : Ulin Nuha
Sekbid : Mega
Anggota : Nurul

Bidang Ekonomi dan Kewirausahaan
Kabid : Nur Idatur Rahma
Sekbid : Hayuningtyas
Anggota : Vivi

Bidang Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Sopemas)
Kabid : Iffatur Rizqiyah
Sekbid : Nadia
Anggota : M. Zainal Abidin

Bidang Media
Kabid : Dianty Nur Fitri
Sekbid : Gita Febriani
Anggota : Fitri Maretno

Bidang Olahraga, Seni, dan Budaya (Orsebud)
Kabid : Romndoni
Sekbid : Alfianur Rizal


Bismillah.....
Semoga mampu mengemban Amanah dengan baik dengan bertujuan, berniat dan semangat ber-IMM Lillahi Ta'ala

"KAMI TIDAK MUNGKIN DIAM"
FASTABIQUL KHOIROT