Kamis, 16 Agustus 2012

Analisa Konflik Suku Rohingya di Myanmar*

             Satu hal yang sangat menarik jika dibahas mengenai konfik yang  rame di media akhir – akhir ini yakni terkait dengan konflik pembantaian suku rohingya oleh suku Rakhines. Ada banyak sekali anggapan yang melatar belakangi terjadinya kasus ini yakni diantaranya adanya kesenjangan suku minoritas dengan suku mayoritas, adanya diskriminasi pencucian otak oleh pemerintah kepada tentara Budhist, adanya konflik perbedaan agama dan ada pula yang mengatakan karena kasus percintaan pasangan antara laki – laki suku rohingya dengan perempuan suku budha yang dimana di dalamnya terdapat tindakan asusila yakni pemerkosaan. Untuk lebih bijaknya hal ini tidak semata – mata  di tinjau dari satu sisi saja, sebab mengenai konflik ini kita juga harus lebih pintar – pintar dan lebih berhati – hati dalam menyikapi.
Banyak sekali jika kita melihat gambar maupun video dari media masa yang belum tentu kepastian dan kebenarannya juga, bahwasanya memang hal ini sangatlah tidak manusawi jika dikaitkan dengan konteks yang namaya memanusiakan manusia/ HAM.
Dalam kajian sore ini sebagian ada yang mengatakan terjadinya konflik ini akibat dari perbedaan agama, itupun dengan alasan karena kaum rohingya yang agamanya islam, dengan faktor tingkat kelahiran sangat tinggi, nah dari situ bisa saja suku rohingya yang awalnya minoritas dapat mengambil kedudukan dari suku rakhines yang mayoritas dengan demikian secara otomatis dan lama kelamaan suku rakhines yang agama budha bisa terislamisasi.
Adapula yang mengatakan bahwasanya konflik ini bukan terjadi karena agama, karena pada dasarnya setiap agama tidak mengajarkan pada umatnya untuk melakukan tindak kekerasan terhadap agama lain , bisa saja adanya pihak – pihak tertentu yang mencari keuntungan dari kasus ini, seperti halnya dari sector ekonomi, politik dll. Namun saya melihat kasus ini di akibatkan oleh adanya Sindrome Mayority yakni kecenderungan kaum mayoritas untuk menguasai kaum minoritas, hal ini juga sering terjadi di negara kita semisal karena mayoritas bangsa kita terdiri dari orang islam maka seringkali ada upaya untuk menguasai terhadap kelompok non muslim.
Berangkat dari beberapa wacana di atas maka kita harus lebih hati – hati dalam menyikapi konflik seperti ini yakni dengan tidak melihat latar belakangnya dari satu sudut pandang saja, apalagi yang mudah mengatas namakan peseteruan antar perbedaan agama. Karena hal ini bisa saja memicu serta bisa mempengaruhi kita untuk membenci agama selain agama yang kita anut.
                                       

* Hasil kajian bidang hikmah pada Jum’at, 10 Agustus 2012.
 By : Sekbid Hikmah