Cerpen, 04-07-2011
“Tidak
......!!” Teriakku histeris usai terima telepon dari mama, seketika semangatku
sirna, harapan keruh di ambang ombak , cita-citapun di hembus angin tanpa
selayang bekas di benakku. Baru saja aku ingin beranjak menuju semangat belajar
baru guna menyiapkan UAN tiga hari yang akan datang. Tiba-tiba terbakar air
mata kesedihan yang menetes tanpa henti. Semuanya gelap karena derita ayah,
salah seorang yang menghadirkanku di muka bumi, kini berbaring tak berdaya di
rumah sakit atas kecelakaan tadi pagi. Aku tak sanggup membayangkan sakitnya
saat terlepas dari leher pohon siwalan, aku tak bisa memutar kejadian itu dalam
ingatan. Sungguh sejarah itu tidak bisa ku terima dengan lapang dada. “Apa...???!!!”
Tanyaku terkejut setelah mendengar keterangan dokter bahwa ayah harus melakukan
operasi perut. Seketika mulutku kaku, air mata berlinangan, hati sesak menahan
dan seluruh tubuh lemas tidak berdaya.
***
Malam ini, malam pertama dari
sejarah pahit di rumah sakit. Suasananya sangat dingin, hujan menguyur sejak
tadi sore , petir dan angin begitu setia mengiringi tiap tetes air hujan seraya
berlomba-lomba, ketakutan mengerumuni tubuhku, ketenangan dalam batin musnah,
degap degup jantung pun semakin kencang. Pikiranku terus merangkak pada dua
jalan yang sulit di langkahi, yang pertama penderitaan ayah, yang ke dua
keberbaringan kakek yang sudah tua renta
seperti tidak punya daya untuk bertahan hidup lama. Dua-duanya menjadi beban yang
sangat dilematis dalam benakku.
Malam
ini aku kehabisan nafsu tidur, gelisah semakin erat mengikat keberadaanku,
berkali-kali telah ku coba menutup dua permata alat aku melihat melalui
jendelanya masing-masing. Tapi usaha yang aku lakukan selalu nihil, aku tak
mampu memaksanya. Sampai malam yang di warnai bintang hanya tinggal kabut
terlentang tenang , bulan yang bercahaya sudah tidak lagi dinikmati sinarnya
oleh dunia, kumandang adzan subuh sudah berlalu, matahari pun memancarkan lampu
kemerahan yang di liputi oleh embun, ternyata pagi ini tak jua membawa
kedamaian, tapi kegelisahan semakin bertambah. “Andaikan sebelumnya Tuhan
mengirim sms ataupun secarik kertas yang bertuliskan (aku akan menurunkan kesedihan yang amat kepadamu), pasti ku tolak dan
ku tunda sampai aku benar-benar siap”, terlintas dalam anganku.
Matahari
semakin tinggi, sedangkan aku baru saja bisa beranjak menuju apotek yang
letaknya di samping selatan jalan raya didepan rumah sakit untuk membeli obat
yang sudah di resep oleh dokter, secara perlahan hujan jatuh satu persatu
seperti mengiringi langkah demi langkah kakiku. Sesampainya di kamar ayah
dirawat aku berikan obat yang ada dalam pegangan tanganku kepada ibu, kemudian
aku duduk di sampingnya. Jam 08:30 aku memandang kalender yang terletak di
samping pintu kamar ayah dirawat. Seketika air mata berjatuhan. Kesal, ingin
rasanya merobek-robek tanggal kemarin di kalender itu. “ Sudahlah nak....!!! mungkin ini adalah takdir dan ujian untuk kita
semua, kita harus bisa menerima cobaan ini, lagi pula kamu kan sudah tau kalau
Tuhan itu melimpahkan ujian bagi hamba-Nya sesuai dengan kemampuannya “.
ibu menasehati ku tanpa basa-basi, kata-katanya benar-benar menohokku, aku menatapnya seraya berdiam,
tiba-tiba ke dua matanya meniteskan air bening. Segera aku menghapus air
matanya. “ Ibu hanya tidak tega melihat
keadaan ayahmu...” ucapnya tersendat-sendat. (Serentak kami berdiam,
beberapa detik kemudian hp-ku berdering, aku beranjak keluar lalu mengangkat
telepon dari kakak)
“ Assalamu’alaikum...” sapaku
“
Wa’alaikum salam...” sahut kakak dari seberang sana. “ Dik, ! kamu bisa pulang
kah sekarang?! Jemput kakak !?” (lanjutnya seperti orang menangis). “ iya” jawabku singkat secara bersamaan
saluran ponsel kita terputus. Segera ku pamit kepada ibu , kemudian bergegas
pulang.
Kabut yang gelap menemani kepulanganku, bunyi
seperti suara bom meledak di langit, menyambar di atas kepala, sampai di
pertengahan jalan air hujan akhirnya berjatuhan dengan deras, pakaian dan tubuh
pun basah secara tiba-tiba karena aku tak sempat untuk berteduh di rumah warga.
Petir menggelegar dahsyat dan kilatan merah seperti lampu yang di mainkan pada
setiap helai tetes air hujan, semuanya datang bersamaan. Beberapa menit
kemudian aku sampai di kampungku dan hujan reda seketika. Sesampainya di depan
rumah aku melihat kakak berdiri sambil menangis, orang-orang berdatangan dan
membuatku timbul sejuta pertanyaan. Segera ku dekati kakak yang sedang menangis
pilu, saat di dekatnya tiba-tiba kakak menyeret tubuhku kedalam pelukannya, dia
memelukku sangat kencang seraya berkata “
kakek,
dik...!!”. mendengar ucapan kakak, aku segera
melepas pelukan eratnya dan bergegas menuju kamar kakek. “kakek...!!! “ teriakku, melihat sekujur jasad kakek yang sudah berselimut
kain sarung panjang, detak nadinya sudah tidak berdenyut lagi, nafasnya yang
sudah tiada. Perlahan tubuhku lemas, mata penuh bayang-bayang , pusing
dan...!?!. (Tiba-tiba ku melihat kakek sudah di sholati).
***
7
hari dari kembalinya kakek kerumah yang abadi tak seorangpun di rumah sakit
membuka mulut atas kepergian kakek. Hari ini hari jumat, hari yang menjatuhkan
air mata secara bertubi-tubi takkan pernah tertutup debu dalam memory
perjalanan ku. Pagi ini ayah membuka matanya dengan ceria kemudian memandangku
dari tempat berbaringnya, ku balas pandangannya dengan tatapan manis yang
berbuah senyum. “ syukurlah ayah sudah
bangun “ sapaku membuka tirai kesunyian. Tapi, tatapan ayah semakin tajam
memandangku, sungguh aku tak bisa menerka pandangannya. Lalu dia mencoba untuk
duduk dari baringnya, sayang dia tak mampu menggerakkan tubuhnya yang rapuh,
aku melihat ada seribu kekecewaan mengerumuni dirinya. “ ya Allah... limpahkanlah kepulihan kepada salah se orang yang ikut
berpartisipasi untuk mewujudkanku di muka bumi ini “ bisik hatiku yang
paling dalam. Kemudian ayah tersenyum seraya bertanya “bagaimana ujian mu
kemarin ???”, tanyanya, “alhamdulillah lancar”, jawabku singkat. Ayah mulai
membelah bibirnya dengan bunga, senyumku mengiringi senyumnya, heningpun menemani
percakapan senyum kami.
Malam
sudah tiba, aku duduk seperti orang termenung ba’da shalat isya’ di atas
sajadah sambil memutar selingkar tasbih, entah mengapa tiba-tiba air mata
berjatuhan , fikiran mengambang di tengah awan, ada rasa benci, kesel, kecewa,
bahkan rasa marah terhadap Tuhan. Tapi, di balik semua itu aku menyadari bahwa
tiada yang sempurna di dunia ini, tiada yang mampu di dunia ini kecuali yang menciptakan dunia ini sendiri,
bahkan aku merasa gila karena mengeluh terhadap apa yang menimpa keluargaku,
padahal dengan mengeluh Tuhan tidak akn mengembalikan apa yang sudah di
ambilnya, akhirnya aku ingat salah satu saran dari seorang guru,”tidak ada masalah yang tidak ada titik
tupunya, hal yang paling mudah di lakukan seseorang ketika dalam kejenuhan,
fikirannya sibuk, pusing karna memikirkan sesuatu adalah menghirup nafas degan
pelan, kemudian di tahan dalam dada sejenak dan lepas melalui mulut, niscaya
ketenangan akan datang dengan sendirinya”. Saran itu terlintas dalam angan,
secara tidak sadar aku mengangguk berkali-kali, lalu mencoba yang telah
terlintas di angan, sesudahnya, aku berdiri seraya menikmati kedamaian, ku
ambil selembar kertas beserta pena, ku tulis sajak hatiku.
????
Dari
mana sumber mata air,
air mata???
Jika tidak Tuhan ciptakan...!
Dari
mana akar sayang kasih, kasih sayang???
Jika
tidak Tuhan ciptakan...!
Dari
mana manusia lahir, lahir manusia???
Jika
tidak Tuhan ciptakan kematian...!
Tuhan...
ku titipkan pada-Mu.
* Moh. Horri “Sang Kejora Sukma” merupakan
Kader Baru IMM KIP “Blue Savant” UMSurabaya, Smt. 1 Prodi Pendidikan Bahasa dan
Sastra Indonesia.
